Alinea

Majalah resmi SIT Aliya yang terbit setiap Tri Wulan, berupaya memberikan informasi seputar perkembangan sekolah yang menjadi salah satu karya kolaborasi seluruh warga sekolah dan menjadi sarana komunikasi dan unjuk kreasi setiap warga sekolah.

Penanggung Jawab: Direktur SIT ALIYA. Penasehat: Kepala SDIT ALIYA & Kepala TKIT ALIYA. Pemimpin Redaksi: Sri Mulyanih. Sekretaris Redaksi: Fikri Latipatul Huda. Keuangan: Anzar Hermansyah. Editor: Mahfudz Hidayat (isi) & Irma Oktaviana Madjid (bahasa). Promosi & Sirkulasi: Dwi Tresna. Penelitian & Pengembangan: mega Laksmitha Pertiwi. Design & Layout: M. Yushar Abdullah dan Fakhri Mubarok 

Sekretariat: SIT ALIYA Jl. Gardu Raya RT. 03 RW. 11 Bubulak – Bogor. 16115

Telp.0251-8422 129
Email :humas.sitaliya@gmail.com

 

Pentingnya Sifat Jujur

Oleh : Abdul Rahman Hidayat, S.Pd.I, M.Pd

“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada surga.”

Kejujuran adalah perbuatan orang yang beriman. Jujur dalam bahasa olahraga bisa diartikan sebagai sportifitas. Dalam olahraga, sportifitas merupakan sikap yang sangat utama untuk menjadikan  dan memperindah pertandingan. Sekarang banyak orang yang tidak mengerti makna sportifitas dan hanya mementingkan sebuah kemenangan. Apabila dalam bertanding sikap sportifitas tidak dilaksanakan, maka pertandingan akan terlihat kacau dan tidak menarik untuk dilihat. Padahal setiap sebelum pertandingan selalu dikibarkan bendera fair play. Jadi sportifitas adalah perilaku atau tindakan dari seorang atau suatu kelompok yang memperlihatkan sikap jujur, bertindak benar, dan menaati ketentuan dan peraturan untuk mencapai sesuatu yang diharapkan.

Kebalikan dari sifat jujur adalah sifat khianat atau berbohong. Sifat ini sangat dibenci oleh Allah SWT dan termasuk dalam ciri-ciri orang yang munafik. Ada sebuah kisah dari Rosulullah SAW tentang sportifitas yaitu sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi rasul, beliau telah dipercaya oleh kabilahnya dan kabilah-kabilah yang lain. Tepatnya yaitu pada waktu terjadi perselisihan peletakan hajar Aswad pada tempatnya. Masing-masing dari mereka merasa bahwa kabilahnyalah yang berhak untuk meletakkan hajar Aswad pada tempatnya semula. Lalu Rasulullah SAW menengahi perselisihan mereka dan beliau membuat keputusan yang sangat bijaksana yaitu dengan meletakkan hajar Aswad diatas sorbannya dan menyuruh masing-masing dari kabilah tersebut untuk mengangkat hajar Aswad bersama-sama dengan masing-masing perwakilan kabilah mengangkat sisi-sisi dari sorban beliau. Dengan begitu akhirnya pertumpahan darah dapat dihindari.

Apabila kejujuran tidak ada dalam jiwa setiap individu maka sikap manusia terhadap sesamanya semakin buas dan garang, satu sama lain saling curiga, tidak ada rasa saling percaya antara satu dengan yang lain

Kejujuran merupakan tiang utama bagi manusia untuk menegakkan kebenaran dan segala sesuatu yang haq di muka bumi. Kejujuran sangat berkaitan dengan kepercayaan. Dalam hubungan apapun, kejujuran dan kepercayaan sulit bahkan tidak  bisa dipisahkan. Sebuah kejujuran dapat menimbulkan rasa kepercayaan, demikian pula kepercayaan biasanya lahir dari adanya kejujuran. Oleh karena itu, hendaknya para orangtua sudah menanamkan nilai kejujuran pada anak sejak usia dini untuk menciptakan hubungan keluarga yang harmonis dan membuat anak tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab. Saat ini kejujuran sudah menjadi barang langka, oleh karena itu kita harus terus menggemakan semangat kejujuran.

Sebagai manusia yang berharap meraih surga, kita harus berusaha untuk menerapkan kejujuran dalam semua hal. Meskipun penerapannya pasti sungguh sulit, kita harus selalu berusaha untuk menjauhkan diri dari sifat dusta atau khianat. Kenikmatan yang didapat oleh orang-orang yang berbuat jujur, tidak hanya diterimanya di akhirat, namun juga diterimanya di dunia. Maka, alangkah baiknya jika kita mulai membiasakan berbuat jujur dan menjauhkan diri dari perbuatan dusta atau bohong yang menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT.

Penulis merupakan Wakasek Bidang Kesiswaan


MASJID AL-AQSHA YERUSALEM PALESTINA (Artikel Umum)

Oleh: Mahfud Hidayat

Dalam kitab Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir, jilid II hal.154, saat menafsirkan kalimat al-Masjid al-Aqsha dalam Surah Al-Isra ayat 1, dipaparkan bahwa menurut al-Hafizh al-Suhaili, Masjid Al-Aqsa tersebut adalah Baitul Maqdis. Nama aslinya adalah Iliya dalam bahasa Suryani yang dalam bahasa Arab bermakna Baitullah. Masjid ini dibangun oleh Nabi Sulaiman Alaihissalam, melanjutkan sekaligus menyelesaikan pembangunan sebelumnya yang dilakukan oleh ayahanda beliau, Nabi Daud Alaihissalam. Menurut hadis yang shahih (riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim), bangunan ini didirikan 40 tahun setelah pembangunan Masjidil Haram (Ka’bah). Dengan demikian, berarti bahwa Masjid Al-Aqsha ini telah dibangun jauh sebelum Nabi Daud, yaitu pada masa Nabi Ishaq dan Nabi Yaqub Alaihimassalam. Namun finishing bangunan ini dilakukan oleh Nabi Sulaiman.

Rasulullah SAW menjadikan Masjid Al-Aqsha yang terletak di Yerusalem, Palestina, sebagai masjid ketiga yang memiliki keutamaan di atas masjid-masjid lainnya di muka bumi, setelah Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, Saudi Arabia. Shalat satu rakaat di Masjid al-Haram nilainya sama dengan 100.000 rakaat di masjid lainnya, di Masjid Nabawi nilainya sama dengan 10.000 rakaat, dan di Masjid Al-Aqsha sendiri nilainya sama dengan 1000 rakaat. Bahkan beliau menganjurkan umat Islam untuk berkunjung ibadah ke sana. Dalam sebuah hadis yang shahih, beliau bersabda: “Seseorang hendaklah dalam melakukan perjalanan jauh berusaha keras untuk mendatangi Masjidil Haram, Masjid al-Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)   

Keutamaan lainnya adalah bahwa orang yang shalat di Masjid Al-Aqsha ini akan diampuni dosa-dosanya. Hal ini sebagaimana doa Nabi Sulaiman dalam hadis riwayat Imam An-Nasa`i, yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, bahwa siapa saja yang datang ke Masjid Al-Aqsha untuk shalat dan beribadah, dosanya akan diampuni dan dibersihkan oleh Allah hingga ia seperti bayi yang baru lahir. Selain itu, masjid ini pula menjadi tempat bertolaknya Rasulullah SAW setelah mengimami shalat di dalamnya bersama para Nabi, untuk melesat naik dari bumi menuju langit dalam peristiwa Isra Mi’raj. Bahkan Al-Aqsha yang berada di Yerusalem Palestina ini pernah menjadi kiblat shalat kaum muslimin. Baru setelah 16 atau 17 bulan setelah Nabi hijrah ke Madinah, maka kiblat kaum muslimin kembali beralih ke Masjid al-Haram, Makkah, Saudi Arabia.

Kini, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat mendeklarasikan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, setelah sekian ratus tahun lamanya menjadi Ibu Kota Palestina. Tentunya ini menyulut gejolak, tidak hanya di kalangan kaum muslimin, bahkan masyarakat dunia. Semoga Negara-negara Islam bersatu untuk menjaga keamanan dan memelihara nilai sejarah dan kemuliaan Masjid Al-Aqsha ini dari tangan-tangan orang yang ingin merusak kesuciannya. Mudah-mudahan kita dapat merawat khazanah peradaban Islam ini jangan sampai jatuh pada mereka yang memusuhi kaum muslimin. Wallahu a’lam.

-Penulis merupakan koordinator Ummi SDIT Aliya.


AYAH (Cerpen)

Karya: Ega Wulansari, S.Pd.I

Kisah perjuangan beberapa ayah yang terlihat di mataku dan tertuang dalam tulisanku.

Ayah, kau bekerja sebagai PNS dari tahun 1981 dengan sejumlah gaji yang diterima setiap bulannya. Tapi gaji itu tidak mencukupi kebutuhan keluargamu, jadi kau bekerja tambahan. Menjadi tukang ojek dari malam sampai subuh. Kau jalani dengan senang hati. Tidak cukup sampai di situ, berjualan bensin eceran pun kau lakukan demi menghidupi anak-istrimu. Di usia senjamu kini, di kala tubuhmu tak sekuat dulu, kau tetap bekerja, meninggalkan menjadi tukang ojek dan penjual bensin eceran. Kau bekerja walaupun anak-anak tak lagi menjadi tanggunganmu. Menunggu masa pensiun, Allah SWT memberi begitu banyak rezeki yang sebagian kau sedekahkan untuk orang-orang di sekitarmu. Kau jalani pengabdianmu kepada negeri sambil menunggu harimu untuk lebih banyak di rumah.

Di usiamu yang sudah senja, kau masih semangat bekerja. Dulu, ketika masih muda, kau bekerja tidak terlalu berat. Bekerja di dalam ruangan, tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga tapi gajimu sangat besar. Sekarang mengisi masa-masa tuamu, kau bekerja lebih berat, mengangkat gas 12 kg, mengangkat dirigen bensin yang beratnya lebih dari 20 liter. Bahkan motormu kau relakan untuk orang yang mungkin lebih membutuhkan. Saat subuh hari kau harus mencari bensin untuk berjualan. Semangatmu tetap berkobar walau tak ada lagi anak-anak yang harus kau beri makan.

Kau isi hari-harimu dengan bekerja. Tapi kau luangkan waktu satu hari bisa berkumpul dengan keluarga. Setiap hari kau bekerja di tiga tempat yang berbeda. Dari pagi sampai siang, kau berada di satu tempat yang hampir setiap hari kau disitu. Dzuhur kau diperjalanan, shalat di tempat lain sekaligus bekerja. Sore hari kau berada di tempat yang berbeda demi kau tunaikan tugas dan berharap Allah SWT melapangkan rejeki untuk kepada anak – anak dan keluargamu. Di rumah, tinggallah rasa lelah yang kau rasa. Tapi itu tidak memutuskan semangatmu untuk terus bekerja.

Dulu kau bekerja di luar negeri dengan gaji yang besar dan sesuai dengan yang dicita-citakan. Tapi Allah SWT berkehendak lain. Allah SWT ingin kau lebih banyak waktu berkumpul dengan keluarga. Akhirnya kau bekerja tanpa harus jarak memisahkan dengan keluargamu. Awalnya terpuruk, rasa sakit yang diderita hingga pekerjaan yang tak tentu. Tapi ada orang yang selalu menguatkan dan memberi semangat. Akhirnya kau membuka usaha di rumah. Berdagang dengan menjajakan dagangan ke sana kemari, membuat telur asin pun dijalani. Itu tidak berjalan lama. Ada harapan baru, bekerja dengan gaji yang tertentu setiap bulannya, walaupun tidak terlalu besar. Itu pun tidak berjalan lama. Karena kebutuhan keluargamu setiap harinya bertambah, dengan terpaksa kau relakan pekerjaan itu pergi. Kau tekuni kembali bekerja di rumah, berdagang, walaupun penghasilannya tidak tetap. Tapi jika dihitung hasilnya lebih besar dari gaji yang kau dapat dari pekerjaanmu sebelumnya.

Kau berjalan menyusuri jalanan di pagi hari, saat sebagian orang dengan masih di dalam rumah mempersiapkan diri untuk bekerja. Kau sudah keluar rumah dengan membawa tiga batang bambu. Kadang kau meletakkan bambu yang kau bawa di antara dahan pohon dan kau beristirahat tanpa ditemani secangkir kopi atau teh, tanpa gorengan atau roti di saat waktunya sarapan. Kau Cuma bernapas panjang, mencoba mengusir rasa lelah yang dirasa. Kenapa tidak membawa bambu-bambumu menggunakan mobil? Pasti akan lebih banyak bambu yang dibawa, akan cepat sampai tujuan, dan tidak akan merasakan lelah yang dalam. Tapi pasti kau punya alasan lain sehingga kau memilih membawa bambu di pundakmu, walaupun pundakmu telah memikul beban kehidupan yang berat.

Kayuhan sepedamu selalu terlihat di pagi hari, dengan menggunakan pakaian yang rapi. Kaos yang sudah pudar termakan teriknya mentari, celana yang terikat dengan ikat pinggang ditambah sandal jepit yang terselip di jari kakimu. Tidak terlalu bagus baju yang kau kenakan tapi cukup rapi dan bersih. Kau menuju sebuah tempat dimana banyak orang berkumpul di sana dan membutuhkan sebuah kantong keresek. Walau tidak  banyak keuntungan yang kau dapatkan tapi kau ikhlas, karena di rumah sudah menunggu anak dan istri yang membutuhkannya. Kau pulang tetap dengan mengayuh sepeda. Adzan ashar mengiringimu sampai kembali bertemu dengan orang-orang yang kau cintai di rumah.

Banyak ayah lain dengan perjuangan yang berbeda. Semoga tulisan ini bermanfaat, menjadikan kita lebih mencintai, menyayangi, dan menghormati ayah yang ada di sekitar kita. Peluk sayang untuk ayah, lantunan doa terbaik senantiasa terucap untukmu di sepanjang hari.

Ya Allah…

Berikan selalu kesehatan kepada mereka. Bukakanlah selalu pintu rejekinya. Jadikanlah peluh dan rasa lelahnya sebagai penghapus dosa dan pemberat timbangan kebaikan di akhirat kelak. Aamiin…

– Penulis adalah seorang guru kelas


Pindah Agama Demi Suami (Konsultasi Agama)

Pak, saya punya kakak. Awalnya Islam kemudian pindah agama menjadi Kristen karena ikut agama suaminya. Setelah bercerai, ia kembali memeluk agama Islam karena suaminya yang kedua beragama Islam. Ia dikarunia tiga orang anak. Dua diantaranya sudah remaja beragama Kristen. Sedangkan satu lagi masih usia SD, belum jelas agamanya, sedangkan ibunya meski sudah memeluk agama Islam, namun belum terlihat sungguh-sungguh dalam ibadahnya. Pertanyaannya, apa kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai keluarga dan orang yang dekat dengannya supaya ia tetap berpegang teguh pada agama Islam yang sekarang dianutnya? Bagaimana tentang agama anak-anaknya? Terima kasih jawabannya.

Hamba Allah di Bogor   

Hamba Allah yang saya hormati. Saya turut prihatin dengan permasalahan yang menimpa keluarga kakak Saudara. Alhamdulillah sekarang sang kakak sudah bertobat dan kembali memeluk Islam. Semoga tobatnya diterima oleh Allah SWT, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: Dan tobat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, “Saya benar-benar bertobat sekarang.” Dan tidak (pula diterima tobat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih. (QS. An-Nisaa`: 18).

Tugas Saudara adalah senantiasa menjalin silaturahim dengan kakak sambil menampakkan dakwah bil hal. Antara lain, mengajaknya ikut pengajian di Majlis Taklim terdekat, berkirim hadiah untuk putra-putranya berupa makanan, buku-buku cerita Islami, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah selalu mendoakannya setiap saat agar kakak Saudara istiqamah dalam beragama Islam dan mau beribadah dengan benar.

Mengenai dua anaknya, yaitu keponakan Saudara, yang memeluk agama Kristen, sebaiknya diajak baik-baik untuk memeluk agama Islam dengan cara yang santun dan berdiskusi ringan tentang kemuliaan agama Islam. Terlebih lagi kepada anaknya yang masih usia SD, ajaklah untuk mengaji dan shalat bersama. Ajarkan dua kalimah syahadat dengan benar sehingga tertanam akidah yang kuat di dalam dirinya. Sebagaimana tuntunan Allah dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl: 125 yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” Demikian, wallahu a’lam.


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *