Supervisi dan Pembinaan Guru UMMI SDIT Aliya

Hari Jumat dan Sabtu, 28-29 Februari 2020, guru-guru Al-Quran Metode UMMI SDIT Aliya tampak  semangat dalam mengikuti rangkaian kegiatan supervisi dan pembinaan dari Ummi Foundation (UF) Surabaya. Kali ini Tim Penjamin Mutu UF menunjuk Ustadz Abdulloh Baihaqi, S.Hum, M.Fil, untuk mensupervisi dan membina Fami (sebutan untuk para guru UMMI SDIT Aliya) yang berjumlah 22 orang selama dua hari.

Pada hari pertama, Ust Baihaqi yang ditemani oleh Ustzh Nita Kurniawati selaku Koordinator UMMI dan Ust Asep Setiaji, mengobservasi sekaligus mensupervisi para fami di kelompok masing-masing yang tersebar di ruang dan koridor kelas, ruang mushala, ruang perpustakaan, dan masjid Aliya. Dengan cermat, beliau mengamati cara mengajar fami dan manajemen kelompoknya. Sesekali beliau memberikan contoh secara langsung kepada fami dalam upaya mengoreksi dan meluruskan beberapa kekurangan dalam proses pembelajaran kelompok. Bagi para peserta didik, KBM UMMI di hari Jumat, pukul 07.30 s.d. 14.20 pun menjadi spesial dengan kehadiran Ust Baihaqi.. 

Di hari berikutnya, Sabtu, 29 Februari 2020, beberapa catatan pun beliau sampaikan sebagai bahan evaluasi. Kegiatan pembinaan ini diawali mulai pukul 07.30 s.d. 15.30. Hal-hal yang sudah dianggap standar dan menjadi nilai plus bagi Fami di SDIT Aliya adalah: adanya trainer, standar fisik kelas, adanya koordinator khusus, penempatan lokasi/area KBM, dan penerapan 7 tahapan mengajar. Adapun beberapa hal yang masih dianggap kurang maksimal adalah: time management, bacaan siswa kurang tajam dan lantang, dan untuk hal ini guru harus tiwasgas (teliti, waspada, dan tegas). Terakhir adalah kurang mempertahankan metode KBSM (Klasikal Baca Simak Murni).

Untuk memperbaiki semua ini, Ust Baihaqi dengan piawai memberikan trik-trik pembelajaran UMMI, baik tartil maupun tahfidz, yang efektif dan proporsional. Beliau pun mengusulkan adanya kelas bengkel yang tugasnya khusus menangani siswa “istimewa”. Bahkan di akhir sesi, mulai pukul 13.00 s.d. 15.00, secara khusus beliau membahas klasifikasi pembelajaran tahfiz sesuai dengan kemampuan siswa. Ada yang belum lancar membaca Al Quran dan harus dibimbing oleh fami dalam hal pelafalannya. Kelompok ini harus melihat guru. Ada yang sudah lancar membaca sehingga tidak perlu lagi bimbingan, namun langsung didorong untuk menyetorkan hafalan. Kelompok ini langsung melihat buku tahfiz, tanpa diberi contoh terlebih dahulu. Sedangkan untuk kelas pasca khamatan, hafalan yang disetorkan tidak dibatasi, melainkan sebanyak-banyaknya. Demikian klasifikasi kelompok siswa untuk menambah hafalan (ziyadah). Adapun murojaah (mengulang hafalan) harus menggunakan pola terstruktur dengan urutan suratnya.  Bahkan di beberapa sekolah, untuk program penguatan, terutama saat pra Munaqosyah tahfidz, hafalan disimak oleh penguji secara utuh dengan didampingi orangtua siswa. Semoga dengan supervisi, evaluasi, dan pembinaan ini, UMMI SDIT Aliya semakin mapan dan dapat mempertahankan sebagai salah satu sekolah rujukan dalam pembelajaran Al Quran Metode UMMI di Bogor. (Mahfud)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *